Cerita Seks Bergambar: Para Bidadari Dari Syurga

Cerita seks bergambar
Cerita seks bergambar

* Cerita Seks Bergambar ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa baik dari segi umur maupun pikiran dan berpandangan terbuka. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual.
* Cerita Seks Bergambar ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam Cerita Seks Bergambar ini murni ketidak sengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak menganjurkan atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan.
* Mohon maaf sebesar-besarnya, kalau lahirnya cerita seks bergambar ini menyinggung perasaan warga semprot dan netizen sekalian, penulis tidak bermaksud sarah ataupun melecehkan kelompok tertentu.

Dengan ini saya mempersembahkan karya baru saya…. Selamat menikmati!

Cerita Seks Bergambar – Para Bidadari Dari Syurga

Ema Salima Salsabila

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Ema Salima Salsabila
Ilustasi Cerita Seks Bergambar – Ema Salima Salsabila

Seorang wanita alim berusia 39 tahun, sudah menikah dengan Tio, mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Asifa Salsabila berusia 16 tahun.
Ema sosok Ibu masa kini, selain cantik, dia wanita lemah lembut tapi sangat tegas.
Di bandingkan dengan saudara-saudarnya Ema yang paling kaya, shingga tidak heran kalau Ema memiliki banyak pembantu rumah tangga, tapi walaupun begitu ia memperlakukan pembantunya dengan sangat baik, tapi siapa yang menyangkah kebaikannya di balas dengan penghinaan.
Nama pembantu Ema.
-Inem usianya 27thn
-Darto sopir pribadinya 38
-Ujang 29 thn
-Rusman 41 satpam.

Asyfa Salsabila

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Asyfa Salsabila
Ilustasi Cerita Seks Bergambar – Asyfa Salsabila

Anak dari Ema, dia tumbuh menjadi gadis cantik sama seperti Ibunya. Berkat didikan Ibunya yang tegas, ia tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti, bahkan ia rela mengorbankan dirinya untuk sang Ibu.

Emi Sulia Salvina

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Emi Sulia Salvina
Ilustasi Cerita Seks Bergambar – Emi Sulia Salvina

Usianya 35 tahun sudah bersuami dia memiliki seorang anak laki-laki, namanya Toni, selama ini ia terlalu memanjakan anaknya, sehingga Toni tumbuh menjadi anak yang manja dan penakut.
Rasa sayangnya yang besar membuatnya tidak berpikir panjang demi membela sang anak dia rela menyerahkan tubuhnya agar anaknya tidak di bully.

Elvina

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Elvina
Ilustasi Cerita Seks Bergambar – Elvina

Usia 32 tahun, sudah menikah dengan Hendra tapi belum memiliki anak, di rumah ia tinggal bertiga dengan Suaminya dan Mertuanya yang bernama Amin usianya 50thun.
Elvina berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Dia tipe wanita pendiam, ia lebih suka mengekspresikan rasa suka, marah, dan sebagainya dengan bahasa tubuh.
Amin yang berpengalaman mengerti apa yang di inginkan menantunya, sehingga ia membuat sebuah permainan yang melibatkan Elvina secara tidak langsung.

Inayah Sipta Renata

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Inayah Sipta Renata
Ilustasi Cerita Seks Bergambar – Inayah Sipta Renata

Usia 26 thun sudah menikah dengan Hasan tapi belum memiliki anak, suaminya seorang pengangguran sementara Ina seorang pns, dia dekat dengan sahabat Suaminya Anton yang juga seorang PNS.
Inayah tipe wanita yang keras kepala, genit, dan matre. Sementara Suaminya tipe pria penurut termasuk dalam katagori Suami takut Istri.

Anayah Sipta Renata

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Anayah Sipta Renata
Ilustasi Cerita Seks Bergambar – Anayah Sipta Renata

Usia 25 tahun, belum menikah dan berencana ingin menikah dengan seorang Akhwat bernama Aji pamungkas berkat di jodohkan. Diantara saudaranya ia yang paling taat beragama, dan cita-cita terbesarnya mengajak sahabat terbaiknya kembali kejalan yang benar.
###

Daftar Isi

Cerita Seks Bergambar Part I (di halaman ini)

Cerita Seks Bergambar Part II

Cerita Seks Bergambar Part III (Tamat)

Prolog
Sangat sulit tentunya bisa berkumpul bersama bagi mereka yang kini sudah memiliki kesibukan masing-masing, apa lagi sebagian dari mereka kini sudah menikah dan memiliki anak, tapi walaupun sudah berkeluarga, mereka tetap saling menyayangi dan sangat perduli dengan satu sama lainnya. Dan hari ini mereka berkumpul bersama membahas pernikahan Adik bungsu mereka yang berencana ingin segera melepas masa lajangnya.

Dan untuk membahas masalah tersebut mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah Ema Salima Salsabilla, karena diantara mereka berlima Ema anak paling tua, sehingga tidak heran kalau mereka menganggap Ema seperti orang tua mereka sendiri setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia.

“Kamu serius mau menikah?” Tanya Ema setelah mereka baru saja selesai menyantap makan malam bersama, dan sekarang mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Iya aku serius Mbak, aku pikir sudah saatnya aku melepas masa lajangku.” Jelas Ana sembari tersenyum yakin dengan keputusannya.

“Menikah itu tidak muda. Tanggung jawab kamu sebagai seorang wanita akan bertambah?” Ujar Elvi sambil mengambil keripik singkong kesukaannya yang ada di atas meja.

“Benar apa yang dikatakan Mbak Elvi Ana, apa lagi calon Suami kamu kerjanya saat ini gak jelas, aku takut nanti kamu bernasib sama denganku.” Ina mengingatkan saudaranya tentang bagaimana nasibnya saat ini.

Ina yang usianya hanya terpaut satu tahun dari adiknya, memang sudah menikah dua tahun yang lalu, tapi kehidupan rumah tangganya tidak begitu harmonis, karena Suaminya hanyalah seorang pengangguran, membuatnya kini menjadi tulang punggung keluarga.

“Husst… kamu gak boleh ngomong seperti itu.” Sergah Emi kepada Adiknya.

“Ingat dulu kamu yang memilih Hasan untuk menjadi Suami kamu, bukannya dulu Mbak sudah ingatkan kamu!” Ujar Ema menasehati Adiknya, yang di nasehati hanya diam saja.

“Seharusnya kamu bersyukur sudah meiliki pendamping hidup yang menyayangi kamu, dan selama ini Mbak lihat Suami kamu sudah berkerja keras mencari pekerjaan, dia bukan orang yang pemalas hanya duduk diam di rumah.” Timpal Emi, sambil mendesah lirih.

“Sudah… sudah… saat ini kita sedang membahas pernikahan Ana!” Lerai Elvi.

Kemudian mereka kembali sibuk membahas pernikahan Anna, dan di lanjut dengan mengobrol ringan bercanda gurai. Rasanya sudah lama mereka tidak seperti saat ini, bisa saling menasehati, memberi masukan dan bercanda santai sambil tertawa ringan.

Tak terasa waktu terus berputar, hingga akhirnya satu persatu dari mereka pulang kerumah masing-masing, kecuali Anna yang masih tinggal di kamar kossan.
###

Satu…

Ema Salima Salsabila

Seperti biasanya, aku bangun lebih awal. Menyiapkan semua keperluan Suami dan anak gadisku. Di mulai dari memasak yang di bantu oleh Inem, selesai memasak, aku segera kembali kekamarku, membangunkan Suamiku yang masih terlelap.

Perlahan aku duduk di tepian tempat tidur, cukup lama aku memandangi wajah Suamiku.

Tidak terasa sudah tujuh belas tahun lebih kami menikah, hingga kami melahirkan seorang Putri yang begitu cantik, dan membanggakan.

“Bangun Mas!” Panggilku lirih…

Tubuh Mas Tio menggeliat, dengan perlahan ia membuka matanya dan kemudian tersenyum kearahku. “Jam berapa sekarang?” Tanyanya dengan suara yang serak.

“Sudah jam lima, ayo bangun!” Pintaku.

Tapi tiba-tiba Mas Tio memeluk pinggangku menjatuhkanku diatas tempat tidur kami. Lalu dia mulai menyerangku, mencium sekujur wajahku, dan terakhir ia memanggut bibirku lembut penuh kasih sayang.

“Mas… nanti anak kita Asifa kesiangan loh!” Kataku mengingatkannya.

Dia membelai wajahku. “Ini hanya sebentar kok sayang, boleh ya…” Bujuknya, tapi tanpa menunggu jawaban dariku dia melucuti celana piyamaku berikut dengan celana dalam yang aku kenakan.

Kalau sudah begini aku hanya pasrah membiarkan dirinya menuntaskan birahinya. Bukankah ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang Istri yang wajib melayani Suaminya. Dalam kondisi apapun aku tidak boleh menolaknya, karena surgaku ada di rhidonya.

Dengan perlahan kurasakan penis Suamiku yang menyeruak masuk kedalam vaginaku yang masih kering. “Aaahkk…” Aku merintih pelan.

Dengan ritme pelan Suamiku mulai menggerakan pinggulnya maju mundur, hingga akhirnya akupun mulai terangsang dan menikmati setiap gesekan yang terjadi antara kelamin kami berdua.

“Kamu sangat cantik sekali, walaupun sudah tidak muda lagi, tapi wajah dan bentuk tubuhmu sama seperti anak remaja pada umumnya.” Aku tersipu malu mendengar pujiannya terhadapku.

“Aahk… Mas bisa aja! ”

“Mas tidak berbohong sayang, dan… Aahkk…” Tubuh Suamiku bergetar dan kemudian kurasakan lelehan hangat masuk kedalam rahimku.

Tubuhnya ambruk kesamping tubuhku dengan nafas yang memburu. Dia menatapku sebagai ungkapan terimakasih, dan aku menjawabnya dengan tersenyum semanis mungkin.

Segera aku mengenakan kembali celanaku, membiarkan Suamiku beristirahat sejenak sementara aku membangunkan anak semata wayangku yang tentunya saat ini masih tertidur lelap. Setelah membangunkan mereka berdua, aku kembali di sibukan menyiapkan sarapan mereka berdua.

Tugasku baru berakhir ketika mereka berdua meninggalkan rumah dan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.

Selesai mandi, aku berencana untuk bersantai sejenak di depan tv, tapi siapa yang menyangkah aku malah ketiduran di depan tv. Bangun-bangun tubuhku terasa begitu sakit, sepertinya aku sangat kelelahan apa lagi tubuhku sudah lama tidak di pijit.

Lebih baik aku meminta Inem memijittiku sebentar, siapa tau habis itu tubuhku tidak pegel lagi.

Aku berjalan santai menuju kamar Inem yang berada di dekat dapur, setibanya aku hendak mengetuk kamar Inem, tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat mendengar suara yang aneh dari dalam kamar Inem, suara desahan yang sangat familiar di telingaku

Tanpa mengetuk pintu lagi aku membuka kamar Inem dan benar saja. “Astafirullah… kalian ngapain?” Aku memekik kaget saat melihat Inem sedang berada diatas selangkangan Pak Rusman, sementara di belakangnya ada Pak Darto.

“I…ibu!” Panik Inem.

Tapi kedua pria pembantuku itu seolah tak perduli dengan kehadiranku, mereka masi saja menyetubuhi Inem pembantuku, membuatku marah dan sangat geram dengan kelakuan mereka yang kurang ajar.

Aku bertekad akan melaporkan perbuatan zina mereka, kepada Suamiku, dan memecat mereka semua.

Aku hendak meninggalkan kamar Inem, tapi tiba-tiba seseorang memeluk pinggangku dan kemudian menarikku masuk kedalam, belum sadar akan bahaya yang menimpaku, tiba-tiba Ujang menutup pintu kamar Inem dan menguncinya dari dalam.

“Mau apa kamu Jang?” Aku membentaknya marah.

Ujang hanya tersenyum dan kemudian ia melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. “Ya Tuhaan…” Aku meringis ketakuttan.
###

Emi Sulia Salvina

“Assalamualaikum!”

Aku masih berada di dapur saat mendengar salam dari putra semata wayangku. Aku segera menuju pintu rumah utama, kulihat putraku sedang menangis, pakaiannya berantakan, dan wajahnya terlihat memar, bahkan bibirnya sedikit berdarah.

“Astafirullah!” Ucapku kaget, lalu aku memeluk anakku, dan mengajak masuk kedalam rumah.

Aku segera mengambil obat di dalam kotak p3k milikku, lalu kembali menemani putraku, kusuruh ia untuk tidur diatas pangkuanku, lalu dengan perlahan aku mengobati luka di wajahnya.

Ya Tuhan… siapa yang begitu tega memukul anakku, ini sudah kesekian kalinya aku melihat Toni pulang dalam keadaan terluka.

Kali ini aku harus berhasil memaksa Toni untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya. Dan aku harus tau siapa yang telah berani memukul anakku, hingga ia babak belur seperti ini.

“Masi sakit Ton?” Tanyaku setelah mengobati luka di wajahnya.

“Iya Bun, rasanya sakit banget!”

“Cerita sama Bunda, siapa yang sudah berani mukulin kamu, biar nanti Bunda yang menghukum mereka.” Jelasku, sambil mengusap lembut pipi anakku yang mewar akibat pukulan.

Toni tertenduk, dia tak berani menatap mataku. “Gak ada Bunda.” Jawabnya, jelas kalau dia sedang berbohong, luka ini tidak mungkin ada kalau dia tidak di pukuli.

“Bilang sama Bunda, siapa yang sudah memukul kamu? kamu pasti tidak mau di pukulin lagi kan?” Tanyaku pelan dengan nada lirih.

Toni mengangkat wajahnya dan kemudian tersenyum, tapi dia tetap.diam tidak mau memberi tauku, siapa yang telah berani memukulinya. Aku mendesah pelan lalu kembali aku memeluknya dengan sangat erat.

Tak lama kemudian seorang pemuda menghampiriku yang sedang memeluk putraku.

“Baru pulang Wan?”

“Iya Bun, dia kenapa lagi Bun, kok mukanya bonyok gitu?” Tanya Irwan, melihat kearah wajah Toni yang lebam karena di pukulin.

Kulihat dia tampak begitu khawatir, dia segera menarik pundak anakku, dan melihat wajah anakku dari dekat. Kulihat Irwan tampak kesal setelah melihat wajah Toni yang berantakan.

Tidak heran kalau Irwan tampak marah melihat wajah Toni yang terluka, mengingat Irwan adalah keponakan dari Suamiku, secara tidak langsung dia adalah Kakak dari anakku.

“Siapa yang mukulin Adek Bun?”

“Toni belum mau cerita! Ya sudah kamu istirahat dulu ya sayang, Bunda mau masak dulu, kamu juga ya Wan!” Kataku kepada mereka berdua.

“Iya Bun.” Jawab Toni, lalu dia beralu kekamarnya.

“Aku mau nemanin Bunda masak, bolehkan Bun?” Tanya Irwan, aku tersenyum, dia memang anak yang baik, selalu mau membantuku, meringangkan pekerjaanku.

Semenjak tinggal di rumah kami, Irwan memang sudah terbiasa memanggilku dengan panggilan Bunda, sama seperti putraku memanggilku.

“Yakin?”

“Sangat yakin, kapan lagi bisa bantuin Bunda yang cantik!” Jawab Irwan, aku hanya tertawa renyah mendengar gombolannya.
######

Elvina

Aku baru saja tiba di rumah sekitar jam lima sore, baru saja aku memarkir mobil honda jazz milikku, tiba-tiba seorang wanita mudah mengenakan mini dress berwarna merah keluar dari dalam rumah. Dia sempat melihatku lalu tersenyum meninggalkan rumah.

Aku mendengus kesal, ini pasti ulah mertuaku yang lagi-lagi menyewa psk.

Aku tau dia seorang duda, tapi menyewa psk dan membawanya kerumahku tentu ini sudah sangat keterlaluan, apa lagi ini bukan kali pertama aku melihat dia membawa masuk psk kedalam rumahku, tapi ini sudah untuk kesekian kalinya.

Bahkan perna suatu hari, ketika aku pulang lebih awal dari kantor tempatku bekerja, aku memergoki Bapak Mertuaku sedang bercumbu mesrah dengan seorang psk di dalam kamarku.

Tentu saja aku marah dan mengusirnya keluar, tapi setelah itu aku tidak perna mengungkitnya lagi, bahkan aku tidak mengadu ke Suamiku, aku memilih diam dan berharap suatu hari nanti Mertuaku mau bertaubat.

“Astafirullah!” Aku beristifar pelan.

Aku tidak boleh emosi seperti ini, setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya.

Segera aku masuk kedalam rumahku, kulihat Mertuaku sedang duduk sambil menonton tv. Seeperti biasanya, walaupun aku merasa kesal dengan tingkahnya, aku tetap berlaku sopan kepadanya.

“Pak!” Sapaku, lalu mengamit tangannya dan mencium tangannya.

“Baru pulang Vi?” Tanyanya.

Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Maaf Pak cewek tadi yang baru keluar siapa ya?” Tanyaku dengan sopan, dia melihatku sejenak, lalu kembali mengarahkan matanya kelayar tv.

“Dia teman Bapak, tadi cuman mampir!”

Sebenarnya aku ingin sekali marah kepadanya, menegurnya dengan keras, tapi aku takut hubunganku dengannya akan menjadi buruk, tentu saja masalah ini akan berimbas terhadap Suamiku. Aku tidak ingin membuat Suamiku khawatir.

Aku lebih memilih diam, dan segera masuk kedalam kamarku yang sunyi, karena tiga hari ini Suamiku sedang berada di luar kota.

Segera aku membuka pakaianku hingga telanjang bulat, lalu kuambil handukku, dan berjalan santai menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi. Kugantungkan handukku di belakang pintu, lalu sambil bernyanyi riang aku membiarkan air shower membasuh tubuhku.

Kuambil sabun cair, dan kutumpahkan sabun itu di kedua tanganku, lalu dengan perlahan kedua tanganku yang penuhi sabun, mulai bergerilya di tubuhku, membelai perutku yang ramping terus naik hingga keatas payudarahku. “Aahkk…!” Aku merintih pelan ketika jari nakalku menyentuh puttingku.

Lagi-lagi aku seperti ini, padahal baru tiga hari Suamiku pergi, tapi aku sudah sangat merasa kesepian.

“Aahkk… Mas, aku merindukanmu!” Bisikku lirih.

Kedua tanganku semakin intens merangsang payudarahku, meremasnya dengan perlahan, memilin puttingku, membuat wajahku mengada keatas sanking nikmatnya.

Perlahan tangan kananku turun kebawah, lalu kuselipkan jari tengahku kedalam bibir vaginaku yang semakin basah karena lendir precum yang keluar dari vaginaku seakan tak mau berhenti. “Ohk!” Kembali aku merintih, membayangkan Suamiku yang saat ini sedang menyetubuhiku seperti biasanya.

Semakin lama jariku bergerak semakin cepat, hingga akhirnya aku tidak tahan lagi, dan… “Aaaahkk..” Aku memekik cukup keras seiring dengan orgasme yang telah aku dapatkan.

Astaga… lagi-lagi aku bermasturbasi, lama-lama aku tidak kuat kalau harus begini terus.

Mas cepatlah pulang….
###

“Sudah mau pergi sayang!” Sapa Suamiku yang baru saja meletakan segelas susu hangat di atas meja. “Susunya di minum dulu bidadari surgaku.” Dia tersenyum seperti biasanya, menyapaku dengan panggilan sayang.

“Terimakasi Mas!”

“Anton belum jemput kamu sayang, ini sudah jam tujuh lewat, apa perlu Mas yang antrrin kamu?”

“Bentar lagi Mas Anton juga dateng!”

“Nanti kamu telat loh.”

“Gaklah Mas, biasanya juga nanti Mas Aton pasti jemput aku kok, gak mungkin dia langsung kekantor!”

“Ya sudah terserah kamu aja!”

Dan lima menit kemudian terdengar suara deruh mesin di depan rumahku. Aku dan Suamiku segera keluar rumah, kulihat Mas Anton keluar dari dalam mobilnya, dia tersenyum lalu menyapa kami.

“Assalamualaikum!” Sapanya.

“Waalaikumsalam.” Jawabku, “Kok datangnya telat Mas, kita hampir terlambat ni!” Kataku sedikit merajuk, dan seperti biasanya Mas Anton hanya tertawa menanggapi rajukanku, bahkan seperti tidak perduli.

Oh ya, namaku Inaya Septa Renata, usiaku saat ini 26 tahun, dan alhamdulillah sudah satu tahun ini aku di angkat menjadi Pegawai Negri Sipil, berkat bantuan dari Mas Anton. Aku merasa sangat berhutang budi terhadap Mas Anton yang telah begitu banyak membantu berkorban untuk keluarga kecilku.

Mas Aton sendiri adalah sahabat baik dari Suamiku Mas Hasan, mereka saling mengenal semenjak mereka duduk di bangku kuliah.

Hubunganku dengan Mas Anton sekian hari makin dekat, karena setiap hari kami selalu pergi pulang kerja bareng, karena kebetulan kami satu kantor, sanking dekatnya hubungan kami aku sudah menganggap Mas Anton seperti Kakakku sendiri, dia tempatku berkeluh kesah di kalah senang maupun sedih.

“Mas Hasan, aku pergi dulu ya!” Pamitku, lalu mencium tangannya.

“Hati-hati di jalan, Mas Anton, aku titip Istriku ya.” Kata Suamiku, Mas Anton hanya mengangkat tangannya bertanda kalau ia bersedia menjagaku.

Segera kami masuk kedalam mobilnya, dengan perlahan mobil Mas Anton berjalan meninggalkan Suamiku yang seperti biasanya selalu melambaikan tangannya hingga mobil kami menghilang dari pandangannya.

Selama di perjalanan menuju kantor, seperti biasanya kami selalu bercanda gurau.

“Tapi serius loh Dek, kamu hari ini beda banget!” Dasar Mas Anton memang paling suka menggodaku, membuatku terkadang malu sendiri.

“Uda dong Mas neggombalnya.”

“Serius loh Dek, kamu terlihat lebih seksi dari biasanya! Mas aja tadi sempat pangling waktu melihat kamu barusan, Mas pikir tadi siapa.” Dia menoleh sebentar kearahku, lalu tangannya mengamit tanganku.

Tanpa sadar aku meremas tangannya yang sedang menggenggam tanganku.

Entah kenapa akhir-akhir ini setiap kali berdekatan dengannya, jantungku selalu berdetak lebih cepat, selain itu tak jarang aku suka salah tingkah setiap kali ia menggombal, rasanya sangat berbeda ketika Suamiku yang menggombal.

Seperti hari ini ia terus-terusan memujiku, karena aku menuruti sarannya untuk memperkecil ukuran pakaian dinasku, sehingga aku terlihat begitu seksi katanya.

Kalau seandainya saja yang memujiku ini bukan Mas Anton, mungkin aku akan sangat marah, tapi karena yang memujiku ini adalah Mas Anton, rasanya aku tidak bisa marah, malahan aku merasa bangga mendapatkan pujian dari dirinya walaupun pujian itu terdengar vulgar.

“Emang seksinya dari mana sih Mas?”

Dia kembali tertawa renyah. “Lihat payudarahmu Dek, terligat lebih menantang dari sebelumnya, apa lagi pantat kamu Dek, Uh… rasanya Mas gak sabar pengen melihatnya lagi.” Gombalnya senang, membuatku semakin gemes oleh tingkahnya.

“Mas nakal, nantik aku aduhin sama Mas Hasan.” Kataku sembari mencubit perutnya.

“Auw, sakit Dek! Nanti seksinya hilang loh!”

“Biarin.” Kataku merajuk.

Dan alhasil Mas Anton selama sisa perjalanan kami dia terus membujukku agar aku tidak cemberut, tapi aku pura-pura tidak memperdulikannya.
###

Ema Salima Salsabila

Dengan sekuat tenaga aku hendak melepaskan diri, tapi Ujang dengan erat memelukku, dia memaksaku melihat adegan panas antara Mbak Inem dengan Pak Darto dan Pak Rusman, membuatku merasa sangat jijik dengan mereka semua. Bagaimana mungkin mereka memperlakukanku seperti ini sebagai majikan mereka, yang seharusnya sangat mereka hormati.

Mereka benar-benar tidak tau diri, selama aku dan Suamiku memperlakukan mereka layaknya seperti keluarga, tapi apa yang mereka perbuat saat ini sungguh sangat keterlaluan.

Ujang memaksaku duduk di pangkuannya, sementara ia duduk di kursi.

Sambil menonton adegan live show yang ada di hadapanku, Ujang dengan beraninya menggerayangi tubuhku, dia mencium tengkukku yang masih tertutup kerudung, sementara kedua tangannya mencengkram erat payudarahku. Ya… Tuhaan, Aahkk… remasan Ujang dan pemandangan yang ada di hadapanku saat ini, sedikit banyak membuatku terangsang.

Kulihat penis Pak Rusman keluar masuk dengan perlahan di dalam vagina Inem, sementara penis Pak Darto dengan gerakan cepat menyodomi Inem dari belakang.

Untuk pertama kalinya di dalam hidupku melihat pemandangan erotis seperti ini, dan parahnya lagi, adegan terlarang itu di lakukan oleh pembantuku sendiri. “Astafirullah!” Aku mengucap dalam hati.

“Paak… Ooohkk… Ineeem mau keluaaar lagi!” Erang Inem, kulihat tubuh bugil Inem tersentak-sentak selama beberapa detik, dan kemudian tubuhnya melemas, jatuh kedalam pelukan Pak Rusman. Tapi mereka berdua bukannya berhenti malah semakin beringas menyetubuhi Inem, bahkan kulihat Pak Darto memukul pantat Inem cukup keras.

Tidak… kenapa aku seperti ini? Oh… Tuhan, Aku tidak mungkin terangsang… tapi ini…. Aaahk…!

Kusandarkan kepalaku di pundak Ujang sambil merontah kecil kepadanya, sementara Ujang semakin keras meremas payudarahku, bahkan sambil menciumi pipiku, tangan kanan Ujang beralih kebawah menuju keselangkanhanku, aku dapat merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu penisanya seperti menyundul pantatku.

“Kayaknya Ibu sudah terangsang ya?” Ia menggodaku, berbisik di telingaku.

Aku menggeleng lemah. “Tidaaak… Aahkk… Lepaskan saya Mas Ujang! Aaahhkk…. Ooghk…. Cukup, jangan lecehkan saya lagi Mas, ini dosa besar Mas!” Aku memohon tapi tak benar-benar berusaha menghentikan perbuatan cabul yang di lakukannya.

“Coba Ibu lihat Inem? Ibu maukan seperti Inem, kita akan bikin Ibu ketagihan dengan kontol kami, setiap hari Ibu akan kami perkosa sama seperti Inem!”

“Perkosa?” Kataku panik. “Jangan Mas Ujang! Saya mohoon, saya janji tidak memecat ataupun melaporkan perbuatan kalian tapi tolong Mas, jangan seperti ini, lepaskan saya Mas, saya sudah bersuami!” Aku memohon kepada mereka.

“Yakin mau di lepaskan?”

“Khaaaayaaakkkiiiin…” Aku memekik ketika Ujang meremas kasar dadaku.

Tapi tak lama kemudian tiba-tiba Ujang memanggut bibirku, meredam suaraku dengan melumat bibir merahku, menghisapnya dengan perlahan membuatku kaget sekaligus semakin terbawa suasana erotis.

Oh Tuhan… dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak perna merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak perna melakukannya seenak ini, tapi dia… Aahkk… dia hanya pembantuku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi….

“Cukup…” Aku tersadar kudorong dadanya.

Astaga… Apa yang kulakukan barusan, hampir saja aku menikmati sentuhannya di bibirku.

“Kalian sudah selesai belom, sisain tenaga buat ronde kedua ni?” Tanya Ujang kepada mereka yang saat ini sedang berbaring dalam keadaan telanjang bulat, sepertinya mereka baru selesai.

“Udah… hayu kita lanjut.” Kata Pak Darto.

“Serius Mas Ujang mau ngelakuin ini sama Ibu, selama ini Ibu baik sama kita, masak kita malah ngelakuin ini sama Ibu.” Aku bisa sedikit bernafas lega mendengar penuturan Inem, dan berharap mereka mau mendengarkan Inem.

“Tenang aja Nem, kamu aja ketagihankan?” Tanya Ujang, kulihat Inem tertunduk malu.

“Nambah satu bidadari surga lagi ni.” Girang Pak Rusman.

“Pak Darto, tolong ambilkan tali ya, dan kamu Inem, jangan lupa siapin hp kamu.” Perintah Ujang kepada mereka berdua.

“Siap atuh Jang!” Jawab Pak Darto, lalu dia buru-buru keluar kamar Inem.

Entah kenapa aku yang semakin panik tak membuatku bergeming turun dari atas pangkuannya, bahkan ketika Ujang menggendong dan menjatuhkanku diatas tempat tidurku, aku hanya diam, seakan aku pasrah menanti nasibku selanjutnya di tangan mereka.

Tidak… aku harus lari, mereka bermaksud buruk kepadaku, aku tidak boleh tinggal diam, aku harus berontak apapun yang terjadi aku harus keluar.

Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Ujang hingga ia terjengkang kebelakang, lalu dengan secepat kilat aku hendak melarikan diri tapi sebelum pintu kamar Inem terbuka, Pak Rusman sudah membukanya lebih dulu, sehingga satu-satunya akses bagiku untuk melarikan diri ketutup oleh Pak Rusman.

“Tolong Pak!” Aku memelas untuk terakhir kalinya.
###

Inayah Sipta Renata

“Dicariin, ternyata kamu malah ada di sini!”

“Kangen ya… baru juga di tinggal beberapa menit uda kangen aja Mas!” Kataku menggodanya.

“Gimana gak kangen, kalau dada kamu selalu terbayang di benak Mas. Bikin pekerjaan Mas jadi berantakan tau.” Katanya, sambil mengaduk kopi cappucino miliknya.

Aku memasang wajah imutku. “Ya maaf Mas!” Bisikku lirih sambil memanyunkan bibirku.

“Kamu harus tanggung jawab!”

“Hah?” Kataku kaget. “Emang Aku harus gimana Mas, biar Mas gak kepikiran lagi?” Tanyaku, entah kenapa aku mau saja mengikutin kemauannya.

Dia diam sejenak, lalu matanya melirik sekeliling kantin, kemudian ia tersenyum.

Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, tapi aku merasa Mas Anton ingin kembali mengerjaiku seperti kemarin-kemarin. Duh… Mas, kamu itu kok nakal banget si, bikin Adek serba salah.

“Buka dikit dong” Tuhkan bener.

“Apanya Mas?” Tanyaku pura-pura bingung.

Dia meneguk air liurnya. “Kancing baju kamu buka dua ya, Mas pengen lihat kayak kemarin!” Pintanya, membuatku kembali tegang.

“Mas ada-ada aja ni malu tau!”

“Malu kenapa?” Tanyanya.

“Malulah di lihat orang.”

“Ya kan gak ada orang lain, cuman ada kita berdua, terus ngapain juga kamu malu, Adekkan cantik, seksi lagi… Seharusnya kamu bangga punya dada sebesar itu.” Dia menunjuk dadaku dengan bibirnya.

Aku diam sejenak. “Tapi sebentar aja ya Mas.” Dia buru-buru mengangguk.

Dengan perasaan was-was, sambil melirik kekiri dan kekanan aku membuka dua kancing pakaian dinasku, hingga terlihat belahan dadaku dan bagian atas cup bra yang kukenakan.

Gila… kamu gila Ina, ingat ini di kantin kantor, gimana kalau ada yang melihat kamu? Aahk… kamu sbenar-benar sudah gila.

Tiba-tiba Mas Anton berdiri, kemudian dia mengamit tanganku dan langsung membawaku pergi, aku yang panik hendak kembali menutup kancing seragamku, tapi Mas Anton buru-buru menghetikanku. Entah mau apa lgi dia sekarang.

“Kamu seksi, aku ingin memamerkan keseksian kamu ke semua orang!” Kata enteng mengakakku menuju kantor.

Mas Anton… kamu selalu mampu membustku berada dalam kondisi yang sulit seperti saat ini, tapi aku menyukaimu caramu Mas.
####

Ema Salima Salsabila

Namaku Ema Salima Salsabila, usiaku saat ini 39 tahun, memang usiaku sudah tidak muda lagi, tapi mungkin memang pada dasarnya keluargaku semuanya cantik-cantik dan awet muda, sehingga walaupun usiaku sudah mendekati kepala empat aku masih terlihat cantik dan bentuk tubuhku rasanya tidak perna berubah sedikitpun dari aku remaja hingga sekarang, walaupun aku sudah melahirkan seorang Putri.

Tidak heran kalau Suamiku tidak perna merasa bosan menjamah tubuhku.

Tapi di balik kesempurnaan yang kumiliki malah membuatku kini dalam bahaya, mereka para pembantuku berniat memperkosa diriku.

Aku berbaring diatas tempat tidurku, dengan kedua tangan terikat diatas kepalaku, sementara itu mereka bertiga mengelilingiku, dan Inem satu-satunya pembantu perempuan dirumahku sedang memegang kamera hp yang di arahkan kepadaku.

“Jangan tegang Bu, vidio Ibu tidak akan kita sebar, ini hanya sebagai jaminan!” Ujar Ujang sambil membelai kepalaku yang tertutup kerudung.

“Tolong jangan sakiti saya.”

“Mana mungkin kami berani menyakiti Ibu.”

“Bener Bu, yang ada kami malah ingin membuat Ibu merasakan surga dunia.” Timpa Pak Darto, kurasakan tangannya membelai betitsku, terus naik hingga melewati lututku dan menuju kepahaku.

Aku yang panik berusaha memberontak, tapi dengan cepat Ujang memanggut bibirku, ia menghisap bibirku dengan perlahan, memaksaku membuka mulutku dan menghisap, membelit bibir dan lidahku. Sementara tangan kanannya kembali hinggap diatas payudaraku.

Oohkk… Tubuhku menggeliat!

Kenapa dengan diriku ini, ciuman Ujang terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. “Aahkk… ” Tangan siapa itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, vaginaku… Aahkk… hentikan, cairanku sudah keluar.

Kurasakan tangan seseorang kini sedang membelai paha bagian dalamku, sementara kedua payudarahku saat ini sedang di remas nikmat di balik gamis yang kukenakan, dan mulutku kini dengan suka rela tanpa perlawanan berarti membalas lumatan Ujang.

Tidak…. Gamisku sudah di singkap keatas, mereka pasti bisa melihat kedua paha mulusku, dan lagi celana dalamku yang berwarna criem pasti sudah lecek karena precum ini tak mau berhenti keluar.

Satu-persatu kancing gamisku di buka dan kemudian “Breaaat….” Seseorang mengoyak gamisku.

Dengan sangat perlahan seseorang menarik kebawah cup braku, sehingga payudarahku berukuran 34C melompat keluar.

Belum hilang kekagetanku, sekilas aku melihat wajah Pak Rusman mendekati payudarahku, lalu… Oh Tuhan… lidahnya menari-nari di sekitaran payudaraku mengelilingi aurolaku, membuat aku semakin tidak tenang, nafasku memburu dan jantungku… Aahkk!

Celana dalamku di tarik… Jangan-jangan aku mohon, siapapun tolong aku, kedua tanganku terikat aku tidak bisa menghentikannya.

Dan… Uuhkk… sapuan apa lagi ini! Aaahkk… Aku tidak tahan lagi….

“Memeknya sudah basah Jang!” Kudengar suara Pak Darto mengomentari vaginaku.

Ujang melepaskan ciumannya. “Ingat, jangan sakiti majikan kita, buat seenak mungkin!” Komentar Ujang, dia menatapku sembari tersenyum.

Kenapa dengan diriku saat ini, aku sedang di perkosa seharusnya aku marah, bukan merasa malu seperti ini, bahkan rasa malu ini terasa lebih besar ketimbang saat aku melakukan malam pertama dengan Suamiku dulu. Apa ini yang di sebut puber kedua? Tidak mungkin, orang tuaku tidak perna mengajarkanku seperti ini.

“Jang, gamis sama kutangnya ganggu ni.” Protes Pak Rusman, seakan Ujang yang usianya lebih muda malah dianggap seperti seniornya.

“Guting aja Pak, tapi hati-hati!” Perintah Ujang, lalu kurasakan gamisku di gunting dan brakupun ikut di gunting hingga aku benar-benar telanjang bulat menyisakan kaos kaki sewarna dengan warna kulitku, dan kerudungku yang berwarna biru. “Maaf ya Bu gamisnya kami rusak, tapi besok-besok gak akan lagi.” Bisik Ujang, dia mengecup lembut pipiku.

“Jangan Mas, kasihani aku.” Aku kembali memelas.

Tapi yang terjadi kedua payudarahku kembali di gerayangi mereka berdua. Ujang di sebelah kanan menghisap dan menjilati puttingku, sementara Pak Rusman di sebela kiriku sedang menggigit, dan menekan putting payudarahku.

Perlahan kakiku di lebarkan, dan kurasakan jilatan di paha kananku, lalu bergantian dengan paha kiriku.

Aaahkkk… Kepalaku mendongak keatas ketika ujung lidah Pak Darto membelai bibir vaginaku, rasanya… Ya Tuhan, Aahkk… Aku belum perna merasakan ini, Suamiku tidak perna mau melakukan ini.

Pak Darto begitu lihai memainkan lidahnya, dia mengecup dan menghisap clitorisku, membuatku di paksa untuk bertahan mati-matian agar tidak mendesah sanking nikmatnya, rasanya aku ingin mulutku di sumpal, atau di lakban agar aku tidak perlu mengerang ataupun mendesah nikmat seperti ini.

Lidah Pak Darto menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar.

Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. “Aaahkk… Pak!” Aku mendesah… Oohk… Akhirnya aku tidak tahan lagi.

Rasanya terlalu geli nikmat di payudarahku ataupun di vaginaku. Aku merasa sedikit lagi aku mau pipis, dan perasaan ini semakin membuatku meras bersalah.

Maafkan aku Mas, aku mencintaimu tapi ini terlalu menyiksaku Mas.

“Aku… dapeeeeet!” Aku memekik ketika orgasme melandaku.
####

Tiga
Pov Toni

Marah, benci dan cemburu… Semuanya menjadi satu, ketika aku meliihat Irwan yang sedang bercengkrama dengan Bunda di dapur. Irwan sibuk mengaduk masakan, sementara Bunda sibuk mengiris bawang merah.

Sementara aku di sini, di balik tembok ini aku melihat Bunda yang sedang mengobrol ringan, sesekali ia tertawa mendengar lolucon Irwan.

Seandai saja Bunda tau, siapa yang memukulku, akankah Bunda membelaku? Bunda… selama ini Mas Irwan yang suka memukulku, dia suka mengambil uang jajanku, tapi Bunda malah semakin dekat dengan orang yang selalu membuat putramu ini terluka.

Rasanya aku ingin menangis kalau melihat Bunda yang begitu dekat dengan orang yang paling sangat kubenci.

“Bun! Ini sudah mateng belom?”

Bunda melihat sebentar kearah sup yang sedang di masak.” Sebentar lagi…” Jawab Bunda. “Oh ya Wan, emang kamu gak ada pr?” Tanya Bunda.

“Ada Bun, emangnya kenapa?”

“Kalau ada pr, mending kamu kerjain dulu, biar sisanya Bunda yang nanti menyelesaikannya.” Kulihat Bunda tersenyum kearah Irwan, senyumannya manis seperti biasanya, tapi senyuman itu membuat hatiku makin panas.

“Pr-nya bisa Irwan kerjakan nanti Bunda, tapi kalau untuk bantuin Bunda, Irwan gak bisa menundanya.” Gombal… Si anjing itu memang paling pintar ngegombal, bikin darahku semakin naik.

“Hahaha… kamu itu paling pintar ya bikin Bunda seneng, coba kalau seandainya Toni seperti kamu, suka membantu pekerjaan Bunda, mungkin Bunda bisa sedikit bersantai.”

“Emang Toni kenapa Bunda?”

“Anak itu terlalu di manja, didi manja, jadinya sampe segede ini dia tetap manja, apa-apa harus di layani.” Jelas Bunda, membuatku semakin iri dengan Irwan, dia dengan mudanya bisa mengambil hati Bunda, sementara aku? Bunda selalu mengaggapku seperti anak kecil”

“Auuuww…” Aku kaget saat melihat tangan Bunda tiba-tiba berdarah

Tapi aku lebih kaget lagi ketika Irwan tiba-tiba mengambil tangan Bunda, lalu dia menghisap darah yang keluar dari jari telunjuk Bunda. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang sok baik di depan Bunda, aku segera menghampirinya dan kemudian mendorong tubuh Irwan kebelakang.

Bunda dan Irwan sangat kaget melihat aku yang sudah berdiri diantara mereka.

“Toni?”

“Bunda… Toni gak suka Bunda dekat sama Mas Irwan! Dia yang memukuli Toni Bunda, lihat wajah Toni sampa babak belur kayak gini!” Aku menangis, aku sudah tidak tahan lagi melihat Bunda yang terlalu dekat dengan Mas Irwa.

Aku menatap Toni dengan padangan menantang, aku tidak takut lagi dengannya. Aku yakin Bunda pasti mempercayaiku, karena aku anaknya, sementara Irwan, dia cuman menumpang hidup di rumahku, dia orang yang tidak tau malu.

“Apa maksud kamu Ton?” Tanya Bunda heran.

Aku mengelap air mataku. “Setiap hari dia memukulku Bunda, uang jajanku selalu di ambil, aku sangat membenci dia Bunda.” Aduku sambil mendorong tubuh Irwan hingga ia kembali terjengkang.

Baru kali ini aku benar-benar merasa puas, akhirnya aku bisa melawannya.

“Apa itu benar Wan?”

Irwan berusaha berdiri, dia hanya diam saja tak berani memandangku maupun Bunda. Aku tau saat ini dia sedang ketakuttan, kalau kami akan mengusirnya dari rumah ini. Tapi akan kupastikan dia keluar dari rumah ini.

Bunda mendesah pelan. “Jawab Bunda Irwan?” Ulang Bunda.

Irwan mengangkat wajahnya, dia memandangku lalu memandang kearah Bunda, kemudian kulihat ada air mata yang mengalir di pipinya.

“Maafin Irwan Bunda, Maafin aku Ton!”

“Irwan, tolong kamu jujur sama Bunda, kenapa kamu suka memukuli Adik kamu?” Tanya Bunda, aku senang sepertinya Bunda sangat marah.

“Toni… Mas tau, dari awal kamu memang sudah sangat membenci Mas, walaupun Mas gak tau apa alasan kamu begitu membenci Mas, tapi Mas akan pergi dari rumah ini kalau itu yang kamu mau. Dan Maafkan Mas karena tidak bisa melindungi kamu selama ini.” Sial… dia pikir aku akan terpengaruh dengan caranya menangis seperti itu.

Tidak Mas Irwan, aku sangat membenci dirimu, aku tidak akan perna memaafkan kamu. Selama ini kamu selalu memukuliku, dan memperlakukanku seperti binatang, hari ini aku akan membalas semua perbuatan kamu selama ini.

“Bunda tidak mengerti, apa yang sebenarmya terjadi diantara kalian.”

“Irwan cukup sadar diri Bun, aku di sini hanya tamu, tapi… kenapa aku di tuduh memukuli Toni.” Dia menatapku tajam, kemudian tersenyum mengejek. “Aku tau kamu sangat membenciku Ton, tapi kalau kamu tidak suka aku di sini, kamu tinggal bilang, tidak perlu mengusirku seperti ini Ton!” Katanya balik menyerangku, membuatku cukup kaget dengan kata-katanya.

“Bunda Toni tidak bohong.” Buru-buru aku membela diri.

Bunda menoleh kearahku. “Toni?”

“Dia berbohong Bunda, selama ini dia selalu memukulku, tapi selama ini aku selalu diam.” Kataku meyakinkan Bunda.

“Bunda tidak perna mengajarkanmu berbohong, apa lagi sampai menuduh orang lain seperti itu. Dari awal Bunda melihat sepertinya kamu memang tidak perna menyukai Masmu.” Inilah… yang selama ini aku takutkan, kenapa aku tidak perna mau mengadukan perbuatan Irwan kepadaku.

“Bunsa aku tidak berbohong!”

“Bunda sangat mengenal Masmu, selama ini dia tidak perna berbohong, dan lagi dia anak yang baik, suka membantu Bunda.”

“Tapi Bun…”

“Cukup Nak! Kembali kekamar kamu, mulai besok uang kamu Bunda potong.” Astaga…! Bagaimana mungkin Bunda lebih mempercayai orang lain ketimbang diriku sebagai anak kandungnya.

Aki sudah tidak tahan lagi, dari awal seharusnya aku sudah tau kalau Bunda pasti lebih mempercayai Mas Irwan.

Aku berlari menuju kamarku, sambil menangis, sebelum aku meninggalkan dapur, dia, bajingan itu sempat tersenyum mengejekku. Besok nasibku akan jauh lebi buruk dari hari ini.
###

Ema Salima Salsabila

Secara bergantian aku memandangi wajah dan selangkangan seorang pemuda yang saat ini sedang melepaskan ikatan kedua tanganku. Kulihat wajah itu terlihat begitu tenang, tanpa beban bagaikan air yang mengalir, tapi berbanding kebalik saat mataku melihat selangkangannya. Kulihat ada daging tumbuh di sana dengan ukuran yang aku tak tau pasti seberapa besarnya, tapi yang pasti, benda besar berkepala jamur itu jauh lebih besar ketimbang milik Suamiku.

Deg… didalam hati aku terus meminta maaf keSuamiku atas apa yang telah terjadi saat ini, dan memohon ampun kepadanya.

Setelah kedua ikatan tanganku terlepas, pemuda itu menggeser posisinya. Tangan kirinya mengangkat kaki kananku, menekuk dan menopang bagian belakang lututku, hingga kakiku melayang beberapa centi dari atas kasur pembantuku Inem.

Dia memposisikan tubuhnya diantara kedua kakiku, lalu kurasakan gesekan lembut yang memberi sejuta kenikmatan diantara belahan vaginaku yang sudah membanjir basah.

Sementara itu Inem pembantuku mengarakan kameranya didaerah selangkanganku.

“Ibu sudah siap?” Bodoh… dia malah bertanya seperti itu kepadaku.

Aku mendesah berat. “Jangan Mas Ujang, ini dosa besar, kita tidak boleh seperti ini, kamu pasti mengerti apa maksudku? Apa lagi aku sudah bersuami, jadi tolong hentikan permainan gila ini.” Kataku malah terdengar seperti memohon kepadanya untuk tetap melanjutkan permainan ini.

“Aaahkk…” Wajahku mendongak keatas tatkala kepala jamur itu mulai beraksi.

Tangan Ujang meraih payudarahku, dia meremasnya cukup keras sambil jemarinya memencet dan memelintir puttingku, membuatku merintih nikmat, membuatku semakin tidak tahan ingin segera di setubuhi olehnya.

“Percayalah, Ibu pasti menyukai dosa ini!”

Dia berujar sambil mendorong pinggulnya, menekan penisnya yang terus masuk kedalam lorong vaginaku, menembus leher rahimku, membuat mataku terbelalak kaget, sanking panjangnya penis Mas Ujang.

Dia tersenyum, wajahnya menggambarkan kepuasan karena telah berhasim menancapkan senjatanya jauh di dadalam tubuhku.

Aku menggigit bibirku, menahan perih yang bercampur nikmat di dalam vaginaku yang langsung meresponnya, dengan cara menjepit erat penis milik pembantuku itu.

“Memek Ibu rasanya nikmat sekali, masi ngejepit erat kontolku! Padahal Ibu sudah tidak perawan dan perna melahirkan, tapi… Aahkk!” Erang Ujang saat ia menarik perlahan penisnya, kemudian ia mendorongnya lagi hingga mentok.

Tidak… Jangan seperti ini, aku sudah bersuami, tolong hentikaan….

Tanpa bisa berbuat apapun Ujang melesatkan penisnya semakin lama semakin cepat, memompa dan menusuk vaginaku dengan hentakan-hentakan kecil membuat tubuhku terguncang dan rasa ngilu bercampur nikmat di sekujur tubuhku.

“Aaaahkk… Mas Ujaang! Aaaahh… Ah….” Aku memohon, menggeleng-gelengkan kepalaku sankin nikmatnya tusukan yang di berikan Ujang.

Maafkan aku Mas… Maafkan Istrimu ini yang sudah mengkhianati janji suci kita, tapi penis Ujang rasanya… Aahkk… jaug lebih nikmat ketimbang saat kamu melakukannya.

Kupandangi ekspresi wajah Ujang yang tampak begitu puas karena telah berhasil menyetubuhiku.

Ekpresi itu sangat wajar, siapapun yang berhasil menyetubuhi wanita sepertiku, pasti akan merasa sangat bangga dan merasa sangat beruntung bisa merasakan jepitan dinding vaginaku.

Lihatlah diriku, seorang wanita yang selama ini selalu menjaga penampilannya dan selalu menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang wanita yang telah bersuami. Sedang berbaring hanya mengenakan kaos kaki dan kerudung lebar yang sudah acak-acakan dan parahnya lagi, seseorang pemuda berstatus sosial rendah sedang menyetubuhi dirinya selaku majikannya.

“Gimana rasanya Bu? Enakkan?” Dia tersenyum mengejekku.

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Ema Dientot Ujang
Ilustasi Cerita Seks Bergambar – Ema Dientot Ujang

Tapi apa yang ia katakan memang benar, dosa ini terlalu nikmat untuk kuabaikan begitu saja, karena rasa ini tak perna kurasakan sepanjang pernikahanku bersama Suamiku.

“Mas… aku pipis lagi!” Rintihku dengan teriakan penuh gairah.
###

Asyfa Salsabila

Bruaaak…

Tubuhku terjengkang kebelakang dan buku yang kubawak berserakan di lantai koridor sekolah,ketika tak sengaja aku menabrak seseorang pria yang berada di depanku. Ternyata pria itu juga tidak melihatku karena terlalu sibuk dengan hpnya.

Tentu saja aku ingin marah, tapi setelah menyadari siapa yang kutabrak membuat nyaliku ciut.

Kalau di lihat dari pakaiannya, aku yakin dia salah satu guru di sekolahku, tapi siapa? Aku sendiri merasa tidak perna melihatnya. Tapi kudengar dari gosip yang beredar dari teman-teman di sekolah, akan ada guru baru yang katanya sangat keren mengajar di sekolahku.

“Maaf, kamu baik-baik saja?” Tanyanya, sambil membereskan buku-buku milikku yang berserakan di lantai.

Aku yang terpukau dengan ketampanannya, tak bisa berkata apa-apa, aku masih diam berada di posisiku, hingga mata kami bertemu dan… “Astafirullah…” Buru-buru aku membenarkan posisi rokku yang tersingkap.

Mukaku langsung merah padam karena menahan rasa malu. Aku yakin guru baru itu pasti sudah melihat celana dalamku.

Duh… kok aku sebego ini sampe gak sadar kalau rokku tersingkap. Dan lagi… kenapa, jantungku jadi berdetak sekencang ini, sebenarnya ada apa denganku, baru kali ini aku merasakan perasaan aneh seperti saat ini.

“Eehmm… “Dia berdehem untuk menyadarkanku dari lamunanku, segera aku beridiri. “Ini buku kamu, lain kali hati-hati ya.” Ujarnya sembari tersenyum dan menyerahkan bukuku, kemudian dia melangka pergi meninggalkanku sendiri.
###

Ema Salima Salsabila

Kini aku sedang duduk diatas selangkangan Ujang, tubuhku terguncang naik turun, sementara di sisi kiri dan kananku ada Pak Darto dan Pak Rusman, mereka memintaku mengocok penis mereka yang barukuran sangat besar.

Walaupun aku jijik dan merasa sangat berdosa terhadap Suamiku, tapi aku tetap melakukannya.

Kedua tanganku dengan penuh irama bergerak maju mundur mengikuti irama hentakan pinggulku, sementara itu tangan mereka juga tidak tinggal diam, sedari tadi meremasi payudarahku.

“Masi lama Jang?” Tanya Pak Darto, sepertinya ia sudah tidak sabar menunggu gilirannya.

“Masih kayaknya Pak, soalnya ini enak banget, sayang kalau buru-buru keluar.” Jawab Ujang, yang sedang menikmati penisnya di jepit oleh vaginaku. “Kita main kayak biasa aja Pak!” Sambung Ujang, aku tidak mengerti apa yang di maksud main kayak biasanya yang seperti yang di katakan Ujang.

“Serius boleh, masi perawan loh Jang!”

“Gak apa-apa Pak! Makan aja.” Ujar Ujang, kemudian kedua tangannya melingkar di panggangku yang ramping.

Dengan sedikit dorongan, tubuhku rebah diatas tubuh Ujang, hingga payudarahku menempel ketat diatas dadanya, kemudian Ujang mempererat pelukannya hingga aku tak bisa bergerak, sementara itu Pak Darto menghilang dari sampingku, dan Rusman tiba-tiba sudah berdiri di depanku memamerkan penisnya.

Aku tidak tau apa yang mereka inginkan, tapi tiba-tiba pipi pantatku di buka, dengan bersamaan kurasakan ada benda besar yang ingin masuk kedalam anusku. Segera aku menoleh kebelakang dan… “Astafirullah.” Benda besar milik Pak Darto sudah menempel di anusku.

Tubuhku langsung meronta, tapi pelukan Ujang yang erat membuatku tak bisa bergerak. “Jangaaan Pak! Yang itu saya belum perna!” Aku memohon kepada mereka agar tidak memasuki anusku.

Selain karena takut anusku robek, aku juga merasa aneh kalau sampai lobangku di masukin penis Pak Darto, melihat Inem barusan di anal aku sudah merasa jijik, apa lagi kalau anusku yang di masuki, rasanya sangat memalukan dan menjijikan.

Membayangkannya saja aku sudah ingin muntah, apa lagi sampai melakukannya.

“Jangan di lawan Bu, nanti rasanya makin sakit, rilex aja… Nanti Ibu pasti ketagihan tiga lobangnya di masukin! Saya aja ketagihan.” Kata Inem, dia mengarahkan kameranya di selangkanganku.

“Tahan ya Bu.”

“Tu… tunggu Paaak…” Aku memekik pelan saat anusku di masuki kepala penis Pak Darto.

Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu seperti tak perduli dengan ucapanku, dia tetap memaksakan penisnya masuk semakin dalam keanusku, hingga aku merasa anusku dipaksa membuka selebar mungkin.

Mataku terbelalak dan mulutku terbuka lebar sanking sakitnya.

Dan sialnya Pak Rusman memanfaatkan mulutkku yang terbuka dengan menjejalkan penisnya kedalam mulutku.

Jadi ini yang di katakan Inem tiga lobang tadi? Aahk… rasanya sakit tapi kenapa aku merasa begitu seksi dengan kondisiku seperti saat ini. Seorang wanita jilbaber melayani tiga pria sekaligus rasanya agak aneh dan memalukan tapi pasti terlihat sangat menggairahkan.

Kucoba untuk membiasakan diriku dengan kondisiku saat ini, dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Inem, aku mulai menikmatinya.

Mereka bertiga secara serempak menggoyang pinggul mereka, memenuhi ketiga lobangku yang paling berharga, bahkan Suamiku sendiri belum perna merasakan ketiga lobangku.

“Pantatnya Ibu enak loh, keseet banget! Bapak belum perna coba ya Bu?” Tanya Pak Darto, sambil menyodomiku dia menampar kecil pantatku.

“Ya pastilah belum perna, mana ngerti Bapak yang enak-enak, benerkan Bu?” Timpal Pak Rusman, dia mencabut penisnya dari mulutku, sehingga aku bisa menarik nafas dengan bebas.

Aku mendesah nikmat. “Tidak perna… Aahkk… Soalnya ini tidak boleh, ini biang penyakit! Aahkk… Sudah… aku tidak mau lagi.. Aku Hhmmpp…” Mulutku kembali di sumpal oleh penis Pak Rusman, ia kembali menggoyangkan pinggulnya.

Mereka semua sangat kurang ajar, dan berani memperlakukanku seperti binatang.

Lima menit kemudian, Ujang mengerang bersamaan denganku, kami mencapai puncaknya bersama-sama. Lalu di susul oleh Pak Rusman yang memuntahkan spermanya di dalam mulutku, dan sebagian spermanya tertelan olehku, sebagian lagi mengenai wajah dan kerudungku.

Rasanya sangat aneh saat aku menelan sperma Pak Rusman, karena ini adalah pengalaman pertamaku menelan sperma, tapi entah kenapa aku merasa seperti menyukainya.

Tinggal Pak Darto yang belum keluar, ia semakin cepat menggoyang pinggulku.

“Bu… saya mau keluar!” Erangnya.

Aku menggigit bibirku karena aku juga ingin keluar untuk kesekian kalinya. “Paak…” Rintihku pelan saat orgasmeku datang, lalu di susul Pak Darto yang menyirami anusku.
###

Bersambung KESINI.

Nantikan kelanjutan cerita seks bergambar ini pada sesi berikutnya.

Distibutor Vimax Extender

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*